Analisis Faktor Penyebab Kegagalan NGO di Indonesia Menggunakan Metode Analytic Hierarchy Process (AHP)
Analytic Hierarchy Process (AHP) oleh Thomas L. Saaty menggunakan perbandingan berpasangan dengan skala 1-9 untuk menentukan prioritas relatif setiap faktor kegagalan NGO.
Kuesioner 60 pertanyaan perbandingan berpasangan ke 67 NGO di seluruh Indonesia.
Jawaban responden dikonversi menjadi skor numerik (skala Saaty 1-9) dan disusun dalam matriks.
Matriks perbandingan 5×5 dibuat, dinormalisasi, lalu dihitung Priority Vector (bobot).
Consistency Ratio (CR) dihitung. CR < 0.10 artinya penilaian valid dan konsisten.
Bobot dari 61 responden valid diagregasi untuk menentukan ranking akhir faktor kegagalan.
67 organisasi NGO dari berbagai sektor di Indonesia berpartisipasi dalam penelitian ini.
Bobot prioritas 5 kriteria utama penyebab kegagalan NGO berdasarkan rata-rata dari 61 responden valid.
| Rank | Kode | Kriteria | Bobot | Persentase |
|---|---|---|---|---|
| 1 | C1 | Pendanaan | 0.3468 | |
| 2 | C2 | SDM | 0.2366 | |
| 3 | C3 | Kebijakan & Tata Kelola | 0.1719 | |
| 4 | C4 | Koordinasi & Kolaborasi | 0.1373 | |
| 5 | C5 | Monitoring & Evaluasi | 0.1074 |
Detail bobot prioritas 25 sub-kriteria (5 per kategori) yang menunjukkan faktor spesifik penyebab kegagalan.
| Nilai | Definisi | Keterangan |
|---|---|---|
| 1 | Sama penting | Kedua elemen berkontribusi sama |
| 3 | Sedikit lebih penting | Satu elemen sedikit lebih diutamakan |
| 5 | Cukup lebih penting | Satu elemen cukup lebih diutamakan |
| 7 | Sangat lebih penting | Satu elemen sangat diutamakan |
| 9 | Ekstrem lebih penting | Satu elemen mutlak lebih diutamakan |
| 2, 4, 6, 8 | Nilai tengah | Kompromi antara dua penilaian berdekatan |
Visualisasi seluruh hierarki dengan bobot global (Bobot Layer 1 × Bobot Layer 2) menunjukkan kontribusi setiap sub-kriteria terhadap keseluruhan faktor kegagalan.